Siaga DBD di Musim Pancaroba

oleh :
dr. H. Bayu Yudiawan, MM
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis


Yudi Rachman Saleh, S.KM., M.KM
Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis

Pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau. Masa pancaroba biasa ditandai dengan frekuensi hujan yang deras, kadang disertai badai, guruh, dan angin kencang. Pada masa pancaroba biasanya frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti pilek, atau batuk, relatif meningkat. Masa ini juga banyak ditandai dengan perilaku khas beberapa tumbuhan dan hewan termasuk nyamuk.

Udara sejuk dan nyaman karena hujan yang turun hampir setiap hari memberikan ancaman tersendiri yaitu meningkatnya populasi nyamuk karena tempat perkembangbiakan dan pertumbuhan larva nyamuk yaitu genangan air lebih banyak tersedia. Dr Budi Haryanto, S.KM, MSPH, MSc, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa secara umum ada kaitan antara jumlah nyamuk dengan cuaca dan musim. Pada musim kemarau, jumlah nyamuk rata-rata lebih banyak daripada biasanya dan telur yang dihasilkannya akan menetas pada musim hujan. Ancaman yang paling berbahaya yaitu meningkatnya perkembangbiakan satu jenis nyamuk penyebar wabah penyakit yaitu nyamuk aedes aegypti. Gigitan nyamuk ini adalah media penularan virus dengue yang menyebabkan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue).

Telur-telur nyamuk aedes aegypti yang dihasilkan pada saat musim kemarau dapat bertahan pada kondisi kering dan saat musim hujan datang kemudian terkena air maka telur-telur tersebut akan menetas. Nyamuk aedes aegypti tidak suka berkembang biak di air kotor atau yang langsung terkena tanah. Nyamuk ini lebih menyukai genangan air bersih seperti tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari (drum, tangki, tempayan, bak mandi/wc dan ember), tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (tempat minum burung, vas bunga, ban bekas, kaleng bekas, botol bekas, plastik bekas), dan tempat penampungan air alamiah (lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, dan potongan bambu). Sedangkan tempat potensial bagi penularan DBD banyak terjadi di wilayah endemis atau banyak terjadi kasus DBD, tempat-tempat umum seperti sekolah, rumah sakit, puskesmas, hotel, pasar, serta pemukiman di pinggir kota dimana penduduknya yang berasal dari berbagai wilayah dan ada kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau orier yang membawa virus dengue yang berlainan dari lokasi asal masing-masing.

Demam berdarah menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan hanya nyamuk betina yang mentransmisikan virus DBD, bukan nyamuk jantan karena nyamuk betina membutuhkan darah untuk memproduksi telur. Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan 2 (dua) puncak aktivitas antara pukul 09.00 sampai dengan 10.00 dan pukul 16.00 sampai dengan 17.00 baik di dalam maupun di luar rumah dan jarang terbang menjauh lebih dari 200 meter dari tempat berkembang biak.

Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang tahun 2019 terjadi 110.921 kasus demam berdarah (DBD). Angka itu meningkat cukup drastis dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 65.602 kasus. DBD banyak terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia dimana menurut WHO masuk ke dalam negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Melihat banyaknya kasus demam berdarah yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 2019 ini, WHO mengklasifikasikan demam berdarah sebagai penyakit tanpa disertai tanda atau gejala. Akan tetapi jika menunjukkan gejala, mengindikasikan bahwa demam berdarah yang diderita tergolong parah atau serius. Bahkan jika tidak segera ditangani maka demam berdarah dapat mengancam jiwa. Ditambah lagi dengan daya tahan tubuh manusia yang menurun seiring terjadinya peralihan musim maka penyakit seperti demam berdarah menjadi satu hal yang patut diwaspadai.

Mekanisme penularan DBD dimulai dari sumber penularan utama yaitu seorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue, virus ini berada dalam darah selama 4 sampai dengan 7 hari. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Dalam waktu 1 minggu setelah menghisap darah penderita maka nyamuk tersebut siap menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya dan menjadi penular atau infektif.

Masa inkubasi DBD biasanya 4 sampai dengan 7 hari atau bahkan 3 sampai dengan 15 hari. Sesudah masa inkubasi orang yang tertular dapat mengalami penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk gejala yaitu :

  • Bentuk Abortif yaitu penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
  • Dengue Klasik yaitu penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak pendarahan dibawah kulit. Bercak merah ini tidak menimbulkan rasa gatal karena timbul akibat pecahnya pembuluh darah dan ketika kulit penderita DBD direnggangkan, ruam atau bercak merah tidak akan hilang.
  • Dengue Haemorhagic Fever (Demam Berdarah Dengue/DBD) yaitu gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan pendarahan dari hidung (Epitaksis/mimisan), mulut, dubur, dsb.
  • Dengue Shock Syndrome yaitu gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok atau presyok, dan bentuk ini sering berujung pada kematian.
Beberapa Gejala pada Penderita DBD

Untuk memastikan seseorang menderita DBD atau tidak perlu dilakukan penegakan diagnosa DBD dengan melihat 2 kriteria klinis dan 2 kriteria labolatoris yaitu :

KLINIS Demam tinggi mendadak, terus menerus selama 2-7 hari
Terdapat manifestasi pendarahan seperti torniquet (+), petechiae, echimosis, purpura, perdarahan mukosa, epitaksis, perdarahan gusi, dan hematemesis dan atau melena
Pembesaran hati
Syok ditandai dengan nadi lemah dan cepat, tekanan nadi turun, tekanan darah turun, kulit dingin
LABORATORIS Trombositopenia (100.000µL atau kurang)
Hemokonsentrasi, Peningkatan Hematokrit 20% Atau Lebih

Selama ini yang terbukti efektif memutus rantai penularan DBD adalah dengan membasmi vektor (penyebar atau penular) berupa nyamuk. Untuk dapat membasmi vektor tersebut harus memahami terlebih dahulu siklus hidup nyamuk. Secara garis besar siklus hidup nyamuk dibagi 2 (dua) yaitu siklus hidup nyamuk di udara (dewasa) dan siklus hidup nyamuk di air (telur-larva-puva). Nyamuk dewasa yang mengigit adalah nyamuk betina dengan umur rata-rata hidup 40 – 55 hari (2 – 3 bulan).

Adapun nyamuk betina dapat bertelur sampai dengan 100.000 butir telur per hari di air bersih yang menggenang tanpa tanah. Telur nyamuk menjadi larva sampai dengan pupa rata-rata membutuhkan waktu sampai 7 hari dan beberapa nyamuk akan bertelur di hari yang berbeda-beda. Sehingga ketika dilakukan fogging yang terbasmi hanya nyamuk dewasa sedangkan nyamuk yang ada pada fase telur dan larva tidak terbasmi. Sementara asap fogging hanya bertahan kurang lebih 1 (satu) hari, sedangkan besoknya pasti akan muncul lagi nyamuk baru dari telur, larva dan pupa yang belum terbasmi oleh fogging. Sedangkan bila yang diintervensinya adalah tempat perkembangbiakan (fase hidup di air) maka semua generasi nyamuk tersebut akan terbasmi dan nyamuk dewasa tidak dapat bertelur karena tidak ada tempat perkembangbiakan. Oleh karena itu pembasmian sarang nyamuk (PSN) jauh lebih efektif dan tuntas daripada fogging yang sifatnya hanya sesaat. Disamping itu fogging masih ada kontradiktif dalam implementasinya mengingat dampak negatifnya berupa :

  • Resistensi nyamuk (nyamuk lebih kebal terhadap obat nyamuk)
  • Belum ada penelitian dampak fogging bagi ibu hamil dan bayi serta binatang peliharaan
  • Biaya yang mahal
  • Kurangnya SDM yang melaksanakan fogging
  • Tidak efektif dan efisien serta hasil tidak optimal sehingga dibandingkan proses, biaya, dan dampak tidak sebanding
  • Harus ada prosedur khusus dan syarat serta ketentuan berlaku bagi pelaksanaan fogging dari rekomendasi hasil penyelidikan epidemiologi

Oleh karena itu sebelum telanjur terkena demam berdarah akan lebih baik untuk meningkatkan kesadaran membiasakan hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, dan membasmi tempat atau sarang perkembangbiakan nyamuk. Pencegahan sebaiknya dimulai dari diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal sekitar. Strategi pencegahan dan pengendalian penyakit DBD yang lebih efektif yaitu dengan PSN 3M PLUS yaitu Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan melakukan 3M Plus. 3M Plus terdiri dari :

  • Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain
  • Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain-lain
  • Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk

Sedangkan plus-nya yaitu :

  • Menaburkan bubuk larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan
  • Menggunakan obat nyamuk atau oleskan lotion anti nyamuk pada bagian kulit untuk mencegah gigitan nyamuk. Tapi jangan oleskan lotion anti nyamuk di permukaan yang luka atau lecet, dekat mata dan mulut. Setelah itu jangan lupa untuk mencuci tangan
  • Semprotkan obat pembunuh serangga di sudut-sudut gelap dalam rumah seperti di kolong tempat tidur, sofa, maupun di balik tirai.Kenakan celana panjang dan baju lengan panjang untuk menutupi kulit Anda
  • Menggunakan kelambu atau kasa nyamuk di tempat tidur terutama untuk bayi dan balita.
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai, lavender, kecombrang, dan lain-lain.
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk karena nyamuk menyukai aroma keringat manusia
  • Gemburkan tanah pada pot untuk mencegah tergenangnya air.
  • Pangkas pohon yang terlalu rimbun, buang semua daun yang berguguran dan sampah yang menumpuk, serta bersihkan kotoran yang menyumbat di talang atap.
  • Menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air di rumah yang sulit dibersihkan, bubuk ini dapat membunuh jentik nyamuk seperti di selokan dan talang atap
  • Segera bersihkan rumah setelah banjir surut agar menghindari lembap, tumbuhnya jamur, dan bersarangnya nyamuk.
  • Jika di rumah ada septic tank, segera perbaiki celah atau retakan yang ada.
  • Halangi agar nyamuk demam berdarah tidak masuk rumah dengan menutup lubang ventilasi, jendela, dan pintu, menggunakan kasa nyamuk, menutup lubang-lubang termasuk lubang pipa, dan menyalakan AC jika tersedia.
Upaya Pencegahan DBD dengan 3M Plus

Salah satu kegiatan PSN dapat dilakukan dengan gerakan Jumat Bersih dan kegiatan ini harus dilakukan di semua area, baik rumah yang bersifat pribadi hingga ruang-ruang publik lainnya. Akan tetapi dalam proses pelaksanaanya terkadang program PSN 3M Plus menemui beberapa kendala diantaranya karena kesibukan dan jumlah kader yang terbatas, penolakan dari pemilik rumah, ketidakmampuan menjangkau tempat-tempat pribadi, waktu pelaksanaan yang kadang terbatas yaitu 1 bulan 1 kali, serta menurunnya kepedulian dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu salah satu program strategi pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian DBD lainnya yaitu melalui pendekatan keluarga dilakukan melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Kegiatan ini mendorong agar setiap rumah memiliki satu orang anggota rumah yang melakukan pemantauan jentik nyamuk dan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan rumah sendiri dan kepala keluarga sebagai penanggung jawab untuk kemudian menyampaikan laporannya.

Selain program pemberdayaan masyarakat melalui PSN 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, perlu juga melakukan penguatan sumber daya manusia termasuk tenaga ahli laboratorium untuk penegakan diagnosa dan dokter untuk peningkatan pengobatan. Tidak kalah penting yaitu kolaborasi dengan lintas sektor karena masalah kesehatan bukan berarti masalah yang harus diselesaikan oleh petugas kesehatan saja tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Selanjutnya dapat memadukan berbagai metode yang sudah ada sehingga kebiasaan melakukan fogging di tempat dan waktu yang tidak tepat dengan pemakaian pestisida untuk memberantas nyamuk pembawa virus dengue dapat dikurangi. Selain demam berdarah beberapa risiko infeksi virus yang lebih tinggi pada musim pancaroba diantaranya leptospirosis, chikungunya, zika, ISPA, influenza, dan lain-lain.

Ayo, cegah nyamuk demam berdarah dan penyakit lainnya di musim pancaroba ini dengan rajin membersihkan rumah. Jika ada anggota keluarga yang mengalami tanda-tanda demam berdarah seperti diatas jangan ditunda-tunda lagi segera berobat ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.