Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV)

oleh :
dr. H. Bayu Yudiawan, MM
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis

Sejak 31 Desember 2019 telah dilaporkan adanya kasus-kasus pneumonia berat berasal dari Kota Wuhan – Tiongkok, yang sampai tertanggal 28 Januari 2020 tercatat dari sumber gisanddata.maps.arcgis.com didapatkan kasus terkonfirmasi sebanyak 4.474 kasus dengan total kematian mencapai 107 orang, yang hampir semuanya berada di negara awal yaitu Tiongkok. Penyebaran kasus mulai merebak ke berbagai negara dengan angka konfirmasi terkini per tanggal 28 Januari 2020 yaitu : Jepang (3 kasus, 0 kematian) Korea Selatan (4 kasus, 0 kematian) Malaysia (4 kasus,0 kematian) Australia (5 kasus, 0 kematian) Perancis ( 3 kasus, 0 kematian) California (3 kasus, 0 kematian) Vietnam (2 kasus, 0 kematian) Washington (1 kasus, 0 kematian) Illinois (1 kasus 0 kematian) Arizona (1 kasus, 0 kematian) Nepal (1 kasus, 0 kematian) Kanada (1 kasus, 0 kematian) Kamboja (1 kasus, 0 kematian) Srilangka (1 kasus, 0 kematian) Ivory Coast ( 1 kasus, 0 kematian) Jerman (1 kasus, 0 kematian). Dapat dilihat dari data tersebut kematian akibat virus ini tidak ada di negara selain Tiongkok.

Menindaklanjuti Surat Edaran Dirjen P3P Kemenkes RI Tentang Kesiapsiagaan dan antisipasi penyebaran penyakit Pneumonia Berat telah disosialisasikan beberapa kebijakan berupa :

  1. Puskesmas melakukan surveilans aktif dan Rumah sakit melaksanakan Hospital Record Review (HRR) setiap minggu dan melaporkan hasilnya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis;
  2. Semua Fasilitas Kesehatan melakukan deteksi dini, pencegahan, respon dan antisipasi munculnya kasus-kasus dengan gejala pneumonia berat yang ada keterkaitan dengan kasus di Tiongkok;
  3. Puskesmas dan Rumah Sakit meningkatkan kelengkapan dan ketepatan pelaporan SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) setiap minggu;
  4. Puskesmas melakukan upaya sosialisasi dan komunikasi risiko kepada seluruh masyarakat melalui kerjasama dengan lintas sektor terkait;
  5. Melaporkan segera kepada dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis bila ditemukan kasus pneumonia berat dengan keterkaitan pada kasus nCoV 2019 Tiongkok;
  6. Melakukan penatalaksanaan kasus merujuk kepada pedoman kesiapsiagaan infeksi Novel Corona Virus (2019-nCoV) sesuai protap dari Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI.

Untuk lebih jelasnya kita bahas tentang penyakit Wuhan pneumonia ini. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus novel corona 2019 (NcoV-2019) pertama kali terkonfirmasi di kota Wuhan Tiongkok. Virus ini sebenarnya hampir serupa dengan virus Corona yang lain seperti Middle East Respiratory Syndrom Corona Virus (MERS-CoV) di Timur Tengah dan Severe Acute Respiratory Syndrom Corona Virus (SARS CoV) yang pernah outbreak di Singapura namun Case Fatality Rate (Tingkat Kematian) jauh lebih rendah dari virus-virus tersebut.

Tindakan yang dilakukan berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus ini ke Indonesia dilaksanakan mulai di gerbang masuk / keluar yaitu di bandara / pelabuhan dll dengan mengimplementasikan thermoscan (pelacakan suhu tubuh) dan skrining pada orang dengan gejala demam batuk kering sakit tenggorokan dan kesulitan bernafas (sesak). Kasus yang berat biasanya timbul pada penderita dengan kekebalan tubuh yang menurun atau sudah ada underlying disease (penyakit yang mendasari sebelumnya) seperti penyakit jantung kanker dll.

Virus ini menular dari manusia ke manusia melalui udara dan bisa juga melalui kontak langsung baik mukosa atau tangan yang tercemar. Virus ini mudah masuk melalui selaput mukosa yang kering. Tetapi virus ini mudah mati dengan pemanasan 70o C atau alkohol 70%. Dengan menggunakan masker dan sering cuci tangan merupakan salah satu yang dianjurkan. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi, istirahat cukup dan pola hidup sehat lainnya. Mereka yang berencana bepergian ke daerah beresiko disarankan untuk ditunda dahulu dan disarankan tetap memakai masker di daerah kerumunan dan implementasi etika batuk (menutup mulut hidung dengan sapu tangan dll).

Obat khusus untuk virus ini belum ditemukan secara spesifik, hanya sebatas pemberian obat penghilang gejala (symptomatik), obat untuk komplikasi dan apabila terjadi pneumonia dapat diberikan antibiotik. Demikian pula dengan vaksin belum ditemukan vaksin spesifik hanya anjuran pemakaian vaksin influenza diharapkan bisa membantu.

Dihimbau masyarakat tidak perlu panik mengenai berita-berita virus corona ini. Dan tetap mengikuti sumber informasi hanya dari yang bisa dipercaya yaitu yang bersumber dari lembaga-lembaga kesehatan yang berwenang yang dirilis secara resmi.

Adapun di Kabupaten Ciamis, Dinas Kesehatan Kab. Ciamis beserta jajarannya tetap melaksanakan surveillance dan sistem kewaspadaan dini dan respon, dengan mengimplementasikan semua kebijakan yang sudah dibuat menjadi pedoman dan prosedur tetap baik dari PDPI maupun yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI melalui Dirjen P2P. Seiring dengan meningkatnya mobilitas penduduk Ciamis, terdapat beberapa orang yang sudah dalam ranah pengawasan surveillance, namun demikian hingga saat ini alhamdulillah tidak memberikan hasil yang mengkhawatirkan. Secara spesifik surveillance terhadap individu dengan faktor resiko dibagi menjadi 4 tingkatan status yaitu :

  1. Dalam Pengawasan :
    1. Seseorang yang mengalami demam (>38oC) atau ada riwayat demam, Batuk kering pilek dan nyeri tenggorokan, pneumonia ringan hingga berat berdasar klini maupun radiologis (dimana perlu diwaspadai pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas dan disertai kondisi sebagai berikut:
      • Memiliki riwayat perjalanan ke Tiongkok (China) atau wilayah negara yang terjangkit ( sesuai dengan perkembangan penyakit) dalam waktu 14 hari sebelum timbul gejala; atau
      • Merupakan petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien ISPA berat yang tidak diketahui penyebab / etiologi penyakitnya, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian.
    2. Seseorang dengan ISPA ringan sampai berat dalam waktu 14 hari sebelum sakit memiliki satu dari paparan berikut :
      • Memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi 2019 NCoV;
      • Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi 2019 NcoV di China dan atau wilayah negara terjangkit;
      • Memiliki riwayat kontak dengan hewan penular (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di China atau wilayah negara terjangkit;
      • Memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan dan memiliki demam >38oC atau ada riwayat demam.
  2. Dalam Pemantauan
    1. Seseorang yang mengalami gejala demam / riwayat demam tanpa pneumonia yang memiliki riwayat perjalanan ke China atau wilayah negara terjangkit dan TIDAK memiliki satu atau lebih riwayat paparan (riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi 2019 NcoV, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi 2019 NcoV di China atau wilayah negara terjangkit, memiliki riwayat kontak dengan hewan penular (jika sudah teridentifikasi) di China atau di wilayah negara terjangkit. Yang termasuk kontak erat adalah :
      • Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan khusus;
      • Orang yang merawat atau menunggu pasien di ruangan;
      • Orang yang tinggal serumah dengan pasien;
      • Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan pasien.

3. Kasus Probabel

Pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk 2019 NcoV tetapi inkonklusif (tidak dapat disimpulkan) atau seseorang dengan hasil konfirmasi positif pan coronavirus atau beta corona virus.

4. Kasus Konfirmasi

Seseorang yang terinfeksi 2019 NcoV dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis secara khusus tetap berusaha mengimplementasikan  surveilance dengan tujuan antara lain :

  1. Melakukan deteksi dini pasien dalam pengawasan / dalam pemantauan / probabel / konfirmasi 2019 NcoV;
  2. Mendeteksi adanya penularan dari manusia ke manusia;
  3. Mengidentifikasi faktor Risiko 2019 NcoV;
  4. Mengidentifikasikan daerah yang berisiko terinfeksi 2019 NCoV.

Demikian sekilas gambaran awal tentang pencegahan dan pengendalian penyakit berkaitan dengan penyebaran infeksi virus Novel Corona (Wuhan Pneumonia / 2019 NCoV) di kabupaten Ciamis. Semoga seluruh warga Tatar Galuh selalu ada dalam Lindungan-Nya dan sehat selalu adanya Amin.

Hasil Evaluasi Persyaratan Administrasi Rekrutmen Tenaga Enumerator Studi Status Gizi Individu (SSGI)

Berikut terlampir daftar peserta seleksi yang dinyatakan lulus dan memenuhi syarat secara administrasi pada tahap administrasi Rekrutmen Tenaga Enumerator Studi Status Gizi Individu (SSGI) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis Tahun 2020.

Ketentuan umum untuk tahapan selanjutnya adalah sebagaimana terlampir.

Rekrutmen Enumerator Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Korwil II Tahun 2020

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI akan menyelenggarakan riset nasional yaitu Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2020 yang dilaksanakan pada Bulan Maret sampai dengan April 2020. Sehubungan dengan hal tersebut, Kabupaten Ciamis membuka peluang bagi 13 (tiga belas) orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi Tenaga Enumerator melalui Rekrutmen Enumerator Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Korwil II Tahun 2020 dengan uraian ketentuan sebagai berikut :

Rekrutmen Tenaga Enumerator SSGI

Segera kirimkan lamaran Anda selambat-lambatnya hari Jumat Tanggal 14 Februari 2020.

 

Penetapan Calon Tenaga Dengan Perjanjian Kerja BOK Tahun 2020

Dalam rangka mendukung capaian program kegiatan yang merupakan Isu Strategis Nasional serta upaya penyelenggaraan SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten Ciamis telah dilaksanakan proses rekrutmen/seleksi untuk penyediaan tenaga dengan perjanjian kerja Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang meliputi Tenaga Promosi Kesehatan, Tenaga Sanitarian, Tenaga Nutrisionis, Tenaga Epidemiologi, Tenaga Pembantu Pengelola Keuangan  dan Tenaga Analis Laboratorium di Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis.

Tahapan seleksi meliputi evaluasi administrasi, ujian/tes tulis kemampuan bidang, ujian/tes kemampuan dasar komputer dan wawancara, yang dimulai sejak diumumkannya formasi kebutuhan pada tanggal 20 Januari 2020 sampai dengan ditetapkannya Calon Tenaga dengan Perjanjian Kerja (Non ASN) Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Tahun Anggaran 2020 pada tanggal 30 Januari 2020, dengan rincian yang dapat diunduh berikut ini :

Daftar Calon Tenaga dengan Perjanjian Kerja

Selanjutnya, kepada para Calon Tenaga dengan Perjanjian Kerja diwajibkan hadir mengenakan pakaian kemeja putih dan bawahan kain berwarna hitam untuk mengikuti kegiatan pengarahan yang akan diselenggarakan di Aula I Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis pada Hari Senin tanggal 03 Februari 2020 Pukul 09:00 WIB – selesai.

 

Hasil Evaluasi Persyaratan Administrasi Seleksi Tenaga dengan Perjanjian Kerja BOK Tahun 2020

Berikut terlampir daftar peserta seleksi yang dinyatakan lulus dan memenuhi syarat secara administrasi pada tahap administrasi seleksi/rekrutmen Tenaga dengan Perjanjian Kerja (Non ASN) Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Bersumber Anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2020.

Ketentuan umum untuk tahapan selanjutnya adalah sebagaimana terlampir.

Hasil Evaluasi Administrasi

Siaga DBD di Musim Pancaroba

oleh :
dr. H. Bayu Yudiawan, MM
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis


Yudi Rachman Saleh, S.KM., M.KM
Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis

Pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau. Masa pancaroba biasa ditandai dengan frekuensi hujan yang deras, kadang disertai badai, guruh, dan angin kencang. Pada masa pancaroba biasanya frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti pilek, atau batuk, relatif meningkat. Masa ini juga banyak ditandai dengan perilaku khas beberapa tumbuhan dan hewan termasuk nyamuk.

Udara sejuk dan nyaman karena hujan yang turun hampir setiap hari memberikan ancaman tersendiri yaitu meningkatnya populasi nyamuk karena tempat perkembangbiakan dan pertumbuhan larva nyamuk yaitu genangan air lebih banyak tersedia. Dr Budi Haryanto, S.KM, MSPH, MSc, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa secara umum ada kaitan antara jumlah nyamuk dengan cuaca dan musim. Pada musim kemarau, jumlah nyamuk rata-rata lebih banyak daripada biasanya dan telur yang dihasilkannya akan menetas pada musim hujan. Ancaman yang paling berbahaya yaitu meningkatnya perkembangbiakan satu jenis nyamuk penyebar wabah penyakit yaitu nyamuk aedes aegypti. Gigitan nyamuk ini adalah media penularan virus dengue yang menyebabkan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue).

Telur-telur nyamuk aedes aegypti yang dihasilkan pada saat musim kemarau dapat bertahan pada kondisi kering dan saat musim hujan datang kemudian terkena air maka telur-telur tersebut akan menetas. Nyamuk aedes aegypti tidak suka berkembang biak di air kotor atau yang langsung terkena tanah. Nyamuk ini lebih menyukai genangan air bersih seperti tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari (drum, tangki, tempayan, bak mandi/wc dan ember), tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (tempat minum burung, vas bunga, ban bekas, kaleng bekas, botol bekas, plastik bekas), dan tempat penampungan air alamiah (lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, dan potongan bambu). Sedangkan tempat potensial bagi penularan DBD banyak terjadi di wilayah endemis atau banyak terjadi kasus DBD, tempat-tempat umum seperti sekolah, rumah sakit, puskesmas, hotel, pasar, serta pemukiman di pinggir kota dimana penduduknya yang berasal dari berbagai wilayah dan ada kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau orier yang membawa virus dengue yang berlainan dari lokasi asal masing-masing.

Demam berdarah menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan hanya nyamuk betina yang mentransmisikan virus DBD, bukan nyamuk jantan karena nyamuk betina membutuhkan darah untuk memproduksi telur. Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan 2 (dua) puncak aktivitas antara pukul 09.00 sampai dengan 10.00 dan pukul 16.00 sampai dengan 17.00 baik di dalam maupun di luar rumah dan jarang terbang menjauh lebih dari 200 meter dari tempat berkembang biak.

Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang tahun 2019 terjadi 110.921 kasus demam berdarah (DBD). Angka itu meningkat cukup drastis dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 65.602 kasus. DBD banyak terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia dimana menurut WHO masuk ke dalam negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Melihat banyaknya kasus demam berdarah yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 2019 ini, WHO mengklasifikasikan demam berdarah sebagai penyakit tanpa disertai tanda atau gejala. Akan tetapi jika menunjukkan gejala, mengindikasikan bahwa demam berdarah yang diderita tergolong parah atau serius. Bahkan jika tidak segera ditangani maka demam berdarah dapat mengancam jiwa. Ditambah lagi dengan daya tahan tubuh manusia yang menurun seiring terjadinya peralihan musim maka penyakit seperti demam berdarah menjadi satu hal yang patut diwaspadai.

Mekanisme penularan DBD dimulai dari sumber penularan utama yaitu seorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue, virus ini berada dalam darah selama 4 sampai dengan 7 hari. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Dalam waktu 1 minggu setelah menghisap darah penderita maka nyamuk tersebut siap menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya dan menjadi penular atau infektif.

Masa inkubasi DBD biasanya 4 sampai dengan 7 hari atau bahkan 3 sampai dengan 15 hari. Sesudah masa inkubasi orang yang tertular dapat mengalami penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk gejala yaitu :

  • Bentuk Abortif yaitu penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
  • Dengue Klasik yaitu penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak pendarahan dibawah kulit. Bercak merah ini tidak menimbulkan rasa gatal karena timbul akibat pecahnya pembuluh darah dan ketika kulit penderita DBD direnggangkan, ruam atau bercak merah tidak akan hilang.
  • Dengue Haemorhagic Fever (Demam Berdarah Dengue/DBD) yaitu gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan pendarahan dari hidung (Epitaksis/mimisan), mulut, dubur, dsb.
  • Dengue Shock Syndrome yaitu gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok atau presyok, dan bentuk ini sering berujung pada kematian.
Beberapa Gejala pada Penderita DBD

Untuk memastikan seseorang menderita DBD atau tidak perlu dilakukan penegakan diagnosa DBD dengan melihat 2 kriteria klinis dan 2 kriteria labolatoris yaitu :

KLINIS Demam tinggi mendadak, terus menerus selama 2-7 hari
Terdapat manifestasi pendarahan seperti torniquet (+), petechiae, echimosis, purpura, perdarahan mukosa, epitaksis, perdarahan gusi, dan hematemesis dan atau melena
Pembesaran hati
Syok ditandai dengan nadi lemah dan cepat, tekanan nadi turun, tekanan darah turun, kulit dingin
LABORATORIS Trombositopenia (100.000µL atau kurang)
Hemokonsentrasi, Peningkatan Hematokrit 20% Atau Lebih

Selama ini yang terbukti efektif memutus rantai penularan DBD adalah dengan membasmi vektor (penyebar atau penular) berupa nyamuk. Untuk dapat membasmi vektor tersebut harus memahami terlebih dahulu siklus hidup nyamuk. Secara garis besar siklus hidup nyamuk dibagi 2 (dua) yaitu siklus hidup nyamuk di udara (dewasa) dan siklus hidup nyamuk di air (telur-larva-puva). Nyamuk dewasa yang mengigit adalah nyamuk betina dengan umur rata-rata hidup 40 – 55 hari (2 – 3 bulan).

Adapun nyamuk betina dapat bertelur sampai dengan 100.000 butir telur per hari di air bersih yang menggenang tanpa tanah. Telur nyamuk menjadi larva sampai dengan pupa rata-rata membutuhkan waktu sampai 7 hari dan beberapa nyamuk akan bertelur di hari yang berbeda-beda. Sehingga ketika dilakukan fogging yang terbasmi hanya nyamuk dewasa sedangkan nyamuk yang ada pada fase telur dan larva tidak terbasmi. Sementara asap fogging hanya bertahan kurang lebih 1 (satu) hari, sedangkan besoknya pasti akan muncul lagi nyamuk baru dari telur, larva dan pupa yang belum terbasmi oleh fogging. Sedangkan bila yang diintervensinya adalah tempat perkembangbiakan (fase hidup di air) maka semua generasi nyamuk tersebut akan terbasmi dan nyamuk dewasa tidak dapat bertelur karena tidak ada tempat perkembangbiakan. Oleh karena itu pembasmian sarang nyamuk (PSN) jauh lebih efektif dan tuntas daripada fogging yang sifatnya hanya sesaat. Disamping itu fogging masih ada kontradiktif dalam implementasinya mengingat dampak negatifnya berupa :

  • Resistensi nyamuk (nyamuk lebih kebal terhadap obat nyamuk)
  • Belum ada penelitian dampak fogging bagi ibu hamil dan bayi serta binatang peliharaan
  • Biaya yang mahal
  • Kurangnya SDM yang melaksanakan fogging
  • Tidak efektif dan efisien serta hasil tidak optimal sehingga dibandingkan proses, biaya, dan dampak tidak sebanding
  • Harus ada prosedur khusus dan syarat serta ketentuan berlaku bagi pelaksanaan fogging dari rekomendasi hasil penyelidikan epidemiologi

Oleh karena itu sebelum telanjur terkena demam berdarah akan lebih baik untuk meningkatkan kesadaran membiasakan hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, dan membasmi tempat atau sarang perkembangbiakan nyamuk. Pencegahan sebaiknya dimulai dari diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal sekitar. Strategi pencegahan dan pengendalian penyakit DBD yang lebih efektif yaitu dengan PSN 3M PLUS yaitu Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan melakukan 3M Plus. 3M Plus terdiri dari :

  • Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain
  • Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain-lain
  • Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk

Sedangkan plus-nya yaitu :

  • Menaburkan bubuk larvasida atau abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan
  • Menggunakan obat nyamuk atau oleskan lotion anti nyamuk pada bagian kulit untuk mencegah gigitan nyamuk. Tapi jangan oleskan lotion anti nyamuk di permukaan yang luka atau lecet, dekat mata dan mulut. Setelah itu jangan lupa untuk mencuci tangan
  • Semprotkan obat pembunuh serangga di sudut-sudut gelap dalam rumah seperti di kolong tempat tidur, sofa, maupun di balik tirai.Kenakan celana panjang dan baju lengan panjang untuk menutupi kulit Anda
  • Menggunakan kelambu atau kasa nyamuk di tempat tidur terutama untuk bayi dan balita.
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai, lavender, kecombrang, dan lain-lain.
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk karena nyamuk menyukai aroma keringat manusia
  • Gemburkan tanah pada pot untuk mencegah tergenangnya air.
  • Pangkas pohon yang terlalu rimbun, buang semua daun yang berguguran dan sampah yang menumpuk, serta bersihkan kotoran yang menyumbat di talang atap.
  • Menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air di rumah yang sulit dibersihkan, bubuk ini dapat membunuh jentik nyamuk seperti di selokan dan talang atap
  • Segera bersihkan rumah setelah banjir surut agar menghindari lembap, tumbuhnya jamur, dan bersarangnya nyamuk.
  • Jika di rumah ada septic tank, segera perbaiki celah atau retakan yang ada.
  • Halangi agar nyamuk demam berdarah tidak masuk rumah dengan menutup lubang ventilasi, jendela, dan pintu, menggunakan kasa nyamuk, menutup lubang-lubang termasuk lubang pipa, dan menyalakan AC jika tersedia.
Upaya Pencegahan DBD dengan 3M Plus

Salah satu kegiatan PSN dapat dilakukan dengan gerakan Jumat Bersih dan kegiatan ini harus dilakukan di semua area, baik rumah yang bersifat pribadi hingga ruang-ruang publik lainnya. Akan tetapi dalam proses pelaksanaanya terkadang program PSN 3M Plus menemui beberapa kendala diantaranya karena kesibukan dan jumlah kader yang terbatas, penolakan dari pemilik rumah, ketidakmampuan menjangkau tempat-tempat pribadi, waktu pelaksanaan yang kadang terbatas yaitu 1 bulan 1 kali, serta menurunnya kepedulian dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu salah satu program strategi pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian DBD lainnya yaitu melalui pendekatan keluarga dilakukan melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Kegiatan ini mendorong agar setiap rumah memiliki satu orang anggota rumah yang melakukan pemantauan jentik nyamuk dan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan rumah sendiri dan kepala keluarga sebagai penanggung jawab untuk kemudian menyampaikan laporannya.

Selain program pemberdayaan masyarakat melalui PSN 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, perlu juga melakukan penguatan sumber daya manusia termasuk tenaga ahli laboratorium untuk penegakan diagnosa dan dokter untuk peningkatan pengobatan. Tidak kalah penting yaitu kolaborasi dengan lintas sektor karena masalah kesehatan bukan berarti masalah yang harus diselesaikan oleh petugas kesehatan saja tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Selanjutnya dapat memadukan berbagai metode yang sudah ada sehingga kebiasaan melakukan fogging di tempat dan waktu yang tidak tepat dengan pemakaian pestisida untuk memberantas nyamuk pembawa virus dengue dapat dikurangi. Selain demam berdarah beberapa risiko infeksi virus yang lebih tinggi pada musim pancaroba diantaranya leptospirosis, chikungunya, zika, ISPA, influenza, dan lain-lain.

Ayo, cegah nyamuk demam berdarah dan penyakit lainnya di musim pancaroba ini dengan rajin membersihkan rumah. Jika ada anggota keluarga yang mengalami tanda-tanda demam berdarah seperti diatas jangan ditunda-tunda lagi segera berobat ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.